Selasa, 19 Juli 2016

JIBRIL MENGELILINGI SYURGA ABU BAKAR


JIBRIL MENGELILINGI SYURGA ABU BAKAR
Surga sangatlah luas. Malaikat Jibril yang memiliki tinggi dari permukaan bumi hingga ke langit ketujuh yang mana apabila kakinya menginjak bumi, maka kepalanya akan menyentuh langit ke tujuh tidak mampu menjelajahi luasnya surga. Dikisahkan ketika turun ayat Qad aflahal mukminun (beruntunglah orang yang beriman), Jibril bertanya kepada Allah, mengapa orang beriman beruntung ?  Lalu Jibril a.s disuruh mengelilingi dan menjelajahi surganya Abu Bakar r.a. yang telah dipersiapkan untuknya. Dengan badan yang sangat besar, dan sayap yang bentangannya dari timur hingga ke barat, ia menjelajahi surganya selama 6 bulan.  Setelah letih, ia mengadu kepada Allah, besar sekali …! Maka kata Allah, itu baru sudutnya saja wahai Jibril. 

Rabu, 15 Juni 2016

Abu Bakar Infaq Seluruh Hartanya


Abu Bakar Infaq Seluruh Hartanya
Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan sedekah. Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق ، فوافق ذلك مالاً فقلت : اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال : فجئت بنصف مالي ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما أبقيت لأهلك ؟ قلت : مثله ، وأتى أبو بكر بكل ما عنده فقال : يا أبا بكر ما أبقيت لأهلك ؟ فقال : أبقيت لهم الله ورسوله ! قال عمر قلت : والله لا أسبقه إلى شيء أبدا
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

Abu Bakar Melakukan beberapa Amal dalam Sehari


Abu Bakar  Melakukan beberapa Amal dalam Sehari

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga’

ASH SHIDDIQ


ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (عتيق) dan Ash Shiddiq (الصدِّيق).
Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,
، لي فهبه الموت من عتيقك هذا إن اللهم
Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku
Dan ada beberapa pendapat lain.
Sedangkan julukan Ash Shiddiq didapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam’. Beliau menjawab:
صدق فقد قال كان إن
Jika ia berkata demikian, maka itu benar
Allah Ta’ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq:
وَٱلَّذِي جَآءَ بِٱلصِّدۡقِ وَصَدَّقَ بِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ٣٣
 Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Az Zumar: 33)
Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud ‘orang yang datang membawa kebenaran’ (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang dimaksud ‘orang yang membenarkannya’ (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar Radhiallahu’anhu.
Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad  Shallallahu’alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:
“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)

Sabtu, 30 April 2016

Kecintaan Abu Bakar RA Kepada Rasulullah SAW


Kecintaan Abu Bakar RA  Kepada Rasulullah SAW

Maka Rasulullah berjalan sampai di suatu goa dan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam masuk ke goa itu untuk beristirahat, terlihat di dalamnya terdapat banyak lubang dan itu adalah sarang ular, maka Abu Bakr mulai menutupinya dengan batu, tanah dan kain bahkan pakaiannya ada yang disobek untuk menutupi lubang-lubang itu, tertinggal satu lubang belum tertutup.
Kemudian Rasulullah tidur di pangkuan Abu Bakr As Shiddiq maka Abu Bakr tertuju kepada satu lubang itu yang belum ditutup dan yang lain aman, begitu ia melihat ada yang bergerak dan ternyata seekor ular yang keluar maka ditutup dengan tangannya dan ular itu menggigit dan terus menggigit tangan Abu Bakr. Abu Bakr As Shiddiq hanya diam tidak berani bergerak , karena tidak ingin membangunkan Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam yang tidur di paha beliau . Ia biarkan tangannya hancur terkena gigitan ular itu yang sakit dan pedihnya tidak bisa ia tahan namun tidak berani bersuara apalagi bergerak, karena takut membangunkan sayyidina Muahammad shallallahu ‘alaihi wasallam, air mata Abu Bakr mengalir tidak tahan merasakan sakit yang demikian dahsyat, maka airmata itu terjatuh terkena ke wajah Rasulullah, maka Rasulullah terbangun dan berkata: “kenapa engkau wahai Abu Bakr?” maka Abu Bakr menjawab : “ular wahai Rasulullah”, maka Rasulullah berkata: “Angkat tanganmu”, maka tangannya diangkat kemudian Rasulullah meludahi tangan bekas luka yang hancur karena gigitan ular, dan tangan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq sembuh seperti semula, lalu Abu Bakr As Shiddiq membunuh ular itu.
Para Ulama’ mengatakan di antaranya guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, beliau mengatakan bahwa ular itu datang bukan ingin menggigit atau mengganggu Rasul, tetapi ular itu datang ingin melihat wajah Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam, mencari lubang di sana sini semua tertutup, dan ketika ada lubang terbuka ternyata ada orang yang menghalanginya untuk memandang wajah Rasulullah maka ular itu menggigit berkali-kali, karena biasanya ular berbisa itu kalau menggigit hanya sekali saja tidak berkali-kali, tetapi ular ini menggigit terus agar Abu Bakr melepaskan tangannya dan ular itu bisa melihat wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihin wasallam. Seluruh makhluk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .

Jumat, 29 April 2016

Abu Bakar RA Menemani Nabi SAW di Gua Tsaur


Abu Bakar RA Menemani Nabi SAW di Gua Tsaur

Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA adalah salah seorang shahabat yang menemani Rasulullah SAW ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, dan beliaulah yang menemani Rasulullah SAW ketika bersembunyi di dalam Gua Tsaur. Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Baraa' bin 'Aazib meriwayatkan bahwa ayahnya berkata kepada Abu Bakar:
"Hai Abu Bakar, ceritakanlah kepadaku bagaimana kalian berdua (Abu Bakar dan Rasulullah) berbuat ketika kamu dan Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam (ketika keluar dari gua Tsaur hijrah ke Madinah)". Abu Bakar berkata, "Ya. Kami melakukan perjalanan (sebagian) malam dan sebagian siang harinya hingga tengah (siang) hari, dan dijalan lengang tidak ada seorangpun lewat, lalu nampak kepada kami sebuah batu besar yang memanjang dan terdapat naungan yang tidak terkena sinar matahari, lalu kami singgah disitu. Aku meratakan tempat dengan tanganku untuk tidur beliau dan aku menghamparkan pakaianku, lalu aku berkata, "Tidurlah, wahai Rasulullah, dan aku akan menjaga engkau dari sekeliling engkau". Beliau lalu tidur dan aku keluar menjaga di sekeliling beliau. Tibatiba datang seorang penggembala dengan kambingnya menuju ke arah batu itu bermaksud seperti maksud kami. Lalu aku bertanya, "Kepunyaan siapakah kamu ini ?". Ia menjawab, "Kepunyaan seorang laki-laki penduduk kota atau Makkah". Aku bertanya, "Apakah kambingmu ada yang bisa diperah susunya ?". Ia menjawab, "Ya". Aku berkata, "Apakah kamu berhaq memerah ?". Ia menjawab, "Ya". Lalu ia membawa seekor kambing, lalu aku (Abu Bakar) berkata, "Bersihkanlah tetek itu dari debu, bulu dan kotorannya". (Abu Ishaq) berkata, "Lalu aku melihat Baraa' memukulkan salah satu tangannya pada tangan lainnya, (isyarat membersihkan). Lalu orang itu memerah sedikit air susu ke dalam mangkuk. Aku (Abu Bakar) membawa ember (berisi air) yang aku bawa untuk keperluan minum dan wudlu Nabi SAW. Lalu aku mendatangi Nabi SAW dan aku tidak mau membangunkan beliau. Dan ketika aku datang, kebetulan beliau bangun. Lalu aku menuangkan air pada air susu itu hingga wadahnya yang bagian bawah terasa dingin, lalu aku berkata, "Minumlah, wahai Rasulullah". Beliau lalu minum hingga aku merasa lega. Kemudian beliau bersabda, "Apakah belum waktunya untuk berangkat ?". Aku menjawab, "Sudah". Lalu kami berangkat setelah matahari condong (ke barat). Kemudian Suraqah bin Malik membuntuti kami, maka aku berkata, "Kita dibuntuti, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita". Lalu Nabi SAW berdo’a terhadap Suraqah, lalu kuda Suraqah menancap (dua kaki depan) sampai perutnya. Aku mengira, ke dalam tanah cadas (Zuhair ragu). Kemudian Suraqah berkata, "Sungguh aku menyangka kamu berdua telah berdo’a terhadapku, maka do’akanlah untukku, niscaya Allah menolong kamu berdua, aku akan mengembalikan orang-orang yang mencari kamu". Kemudian Nabi SAW mendo’akan Suraqah, maka dia selamat. Lalu tidaklah Suraqah bertemu dengan seseorang (yang mencari beliau) kecuali dia berkata, "Aku cukupkan kamu (percayalah kepadaku), dia tidak ada di sini". Maka Suraqah tidak bertemu seseorang kecuali dia mengembalikannya. Abu Bakar berkata, "Dan Suraqah memenuhi (janjinya) kepada kami".
[HR.Bukhari juz 4, hal. 180]
Abu Bakar juga berkata : "Aku berkata kepada Nabi SAW saat berada di dalam gua; "Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah dua telapak kakinya, pasti dia melihat kita". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Hai Abu Bakar, apakah kau kira kita hanya berdua, sesungguhnya Allah yang ketiganya".
[HR. Bukhari juz 4, hal. 190]

Pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA


Pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA

Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Dari ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW bahwasanya Rasulullah SAW telah wafat, sedangkan Abu Bakar berada di Sunhi. Isma’il (perawi) berkata, “Yaitu suatu tempat di perbukitan”. Kemudian ‘Umar berdiri dan berkata, “Demi Allah, Rasulullah SAW tidak mati”. ‘Aisyah mengatakan : Dan ‘Umar berkata, “Demi Allah, tidak ada yang terlintas di hatiku kecuali itu. Dan Allah pasti akan menghidupkan beliau kembali, lalu pasti akan memotong tangan dan kaki orang-orang (yang mengatakan Nabi SAW telah mati)”. Kemudian Abu Bakar RA datang, lalu membuka (wajah) Rasulullah SAW dan menciumnya sambil berkata, “Aku tebusi engkau dengan ayah dan ibuku, engkau adalah orang yang baik, hidup ataupun mati. Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, Allah tidak akan mencicipkan kepadamu dua kematian selamanya”. Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata (kepada ‘Umar), “Wahai orang yang bersumpah, jangan tergesa-gesa !”. Setelah Abu Bakar berbicara, maka ‘Umar duduk. Abu Bakar lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berkata, “Ketahuilah, barangsiapa menyembah Muhammad SAW, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha hidup, tidak akan mati, dan Dia berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [QS. Az-Zumar : 30]. Dan Allah berfirman (yang artinya), “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlal sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia meninggal atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad) ? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madlarat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. [QS. Ali ‘Imran : 144]. Perawi berkata, “Lalu orang-orang menangis tersedu-sedu”.
[HR. Bukhari juz 4, hal.193]

Perawi berkata, “Shahabat-shahabat Anshar berkumpul kepada Sa’ad bin ‘Ubadah di Saqifah (bangsal) Bani Sa’idah, lalu mereka berkata, “Dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin”. Kemudian berangkatlah Abu Bakar Ash-Shiddiiq, ‘Umar bin Khaththab dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah kepada mereka, lalu ‘Umar berbicara, kemudian ia disuruh diam oleh Abu Bakar, ‘Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak menghendaki hal itu, tetapi saya telah mempersiapkan suatu pembicaraan yang mena’jubkan diriku, yang aku khawatirkan tidak disampaikan oleh Abu Bakar”. Kemudian Abu Bakar berbicara dengan pembicaraan yang sangat tegas. Perkataan yang beliau katakan, “Kami adalah pemimpin pemerintahan, sedangkan kalian adalah pembantu (menteri-menteri)”. Lalu Hubab bin Mundzir berkata, “Tidak, demi Allah, kami tidak mau yang demikian, tetapi dari kami ada seorang pemimpin dan dari  kalian ada seorang pemimpin pula”. Abu Bakar berkata, “Tidak, tetapi kamilah pemimpin pemerintahan, sedangkan kalian sebagai pembantu (menterimenteri). Mereka (suku Quraisy) adalah bangsa ‘Arab yang paling tengah tempat tinggalnya dan yang paling murni keturunan ‘Arabnya. Maka berbai’atlah kalian kepada ‘Umar bin Khaththab atau Abu ‘Ubaidah”. ‘Umar berkata, “Bahkan kami berbai’at kepadamu (wahai Abu Bakar). Engkau adalah pemimpin kami, orang yang terbaik diantar  kami dan paling dicintai oleh Rasulullah SAW diantara kami”. Lalu ‘Umar menjabat tangannya dan berbai’at kepadanya, lalu orang-orang pun berbai’at kepadanya. Ada seseorang berkata, “Kalian membinasakan Sa’ad bin ‘Ubadah”. Maka ‘Umar berkata, “Semoga Allah yang membinasakannya”.
[HR. Bukhari juz 4, hal.194]
Dalam riwayat lain disebutkan sebagai berikut : tidak terdapat di dalam kitab Allah, dan bukan pula janji yang dijanjikan kepadaku oleh Rasulullah SAW, akan tetapi sungguh aku melihat bahwasanya Rasulullah akan menjaga urusan kita sampai akhir., sungguh Allah telah menetapkan pada kalian kitab-Nya yang dengan kitab itu Allah menunjuki Rasul-Nya SAW, maka jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya Allah menunjuki kalian kepada jalan yang Allah telah menunjukkan kepada Rasul-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah mengumpulkan urusan kalian pada orang yang terbaik diantara kalian dari shahabat Rasulullah SAW, salah seorang diantara dua orang yang pernah berada di dalam gua. Maka berdirilah kalian dan bai’atlah dia”. Maka orang-orang lalu berdiri dan membai’at Abu Bakar secara umum setelah bai’at di Saqifah.
[Ibnu Hisyam juz 6, hal. 82]