Sabtu, 30 April 2016

Kecintaan Abu Bakar RA Kepada Rasulullah SAW


Kecintaan Abu Bakar RA  Kepada Rasulullah SAW

Maka Rasulullah berjalan sampai di suatu goa dan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam masuk ke goa itu untuk beristirahat, terlihat di dalamnya terdapat banyak lubang dan itu adalah sarang ular, maka Abu Bakr mulai menutupinya dengan batu, tanah dan kain bahkan pakaiannya ada yang disobek untuk menutupi lubang-lubang itu, tertinggal satu lubang belum tertutup.
Kemudian Rasulullah tidur di pangkuan Abu Bakr As Shiddiq maka Abu Bakr tertuju kepada satu lubang itu yang belum ditutup dan yang lain aman, begitu ia melihat ada yang bergerak dan ternyata seekor ular yang keluar maka ditutup dengan tangannya dan ular itu menggigit dan terus menggigit tangan Abu Bakr. Abu Bakr As Shiddiq hanya diam tidak berani bergerak , karena tidak ingin membangunkan Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam yang tidur di paha beliau . Ia biarkan tangannya hancur terkena gigitan ular itu yang sakit dan pedihnya tidak bisa ia tahan namun tidak berani bersuara apalagi bergerak, karena takut membangunkan sayyidina Muahammad shallallahu ‘alaihi wasallam, air mata Abu Bakr mengalir tidak tahan merasakan sakit yang demikian dahsyat, maka airmata itu terjatuh terkena ke wajah Rasulullah, maka Rasulullah terbangun dan berkata: “kenapa engkau wahai Abu Bakr?” maka Abu Bakr menjawab : “ular wahai Rasulullah”, maka Rasulullah berkata: “Angkat tanganmu”, maka tangannya diangkat kemudian Rasulullah meludahi tangan bekas luka yang hancur karena gigitan ular, dan tangan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq sembuh seperti semula, lalu Abu Bakr As Shiddiq membunuh ular itu.
Para Ulama’ mengatakan di antaranya guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, beliau mengatakan bahwa ular itu datang bukan ingin menggigit atau mengganggu Rasul, tetapi ular itu datang ingin melihat wajah Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam, mencari lubang di sana sini semua tertutup, dan ketika ada lubang terbuka ternyata ada orang yang menghalanginya untuk memandang wajah Rasulullah maka ular itu menggigit berkali-kali, karena biasanya ular berbisa itu kalau menggigit hanya sekali saja tidak berkali-kali, tetapi ular ini menggigit terus agar Abu Bakr melepaskan tangannya dan ular itu bisa melihat wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihin wasallam. Seluruh makhluk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .

Jumat, 29 April 2016

Abu Bakar RA Menemani Nabi SAW di Gua Tsaur


Abu Bakar RA Menemani Nabi SAW di Gua Tsaur

Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA adalah salah seorang shahabat yang menemani Rasulullah SAW ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, dan beliaulah yang menemani Rasulullah SAW ketika bersembunyi di dalam Gua Tsaur. Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Baraa' bin 'Aazib meriwayatkan bahwa ayahnya berkata kepada Abu Bakar:
"Hai Abu Bakar, ceritakanlah kepadaku bagaimana kalian berdua (Abu Bakar dan Rasulullah) berbuat ketika kamu dan Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam (ketika keluar dari gua Tsaur hijrah ke Madinah)". Abu Bakar berkata, "Ya. Kami melakukan perjalanan (sebagian) malam dan sebagian siang harinya hingga tengah (siang) hari, dan dijalan lengang tidak ada seorangpun lewat, lalu nampak kepada kami sebuah batu besar yang memanjang dan terdapat naungan yang tidak terkena sinar matahari, lalu kami singgah disitu. Aku meratakan tempat dengan tanganku untuk tidur beliau dan aku menghamparkan pakaianku, lalu aku berkata, "Tidurlah, wahai Rasulullah, dan aku akan menjaga engkau dari sekeliling engkau". Beliau lalu tidur dan aku keluar menjaga di sekeliling beliau. Tibatiba datang seorang penggembala dengan kambingnya menuju ke arah batu itu bermaksud seperti maksud kami. Lalu aku bertanya, "Kepunyaan siapakah kamu ini ?". Ia menjawab, "Kepunyaan seorang laki-laki penduduk kota atau Makkah". Aku bertanya, "Apakah kambingmu ada yang bisa diperah susunya ?". Ia menjawab, "Ya". Aku berkata, "Apakah kamu berhaq memerah ?". Ia menjawab, "Ya". Lalu ia membawa seekor kambing, lalu aku (Abu Bakar) berkata, "Bersihkanlah tetek itu dari debu, bulu dan kotorannya". (Abu Ishaq) berkata, "Lalu aku melihat Baraa' memukulkan salah satu tangannya pada tangan lainnya, (isyarat membersihkan). Lalu orang itu memerah sedikit air susu ke dalam mangkuk. Aku (Abu Bakar) membawa ember (berisi air) yang aku bawa untuk keperluan minum dan wudlu Nabi SAW. Lalu aku mendatangi Nabi SAW dan aku tidak mau membangunkan beliau. Dan ketika aku datang, kebetulan beliau bangun. Lalu aku menuangkan air pada air susu itu hingga wadahnya yang bagian bawah terasa dingin, lalu aku berkata, "Minumlah, wahai Rasulullah". Beliau lalu minum hingga aku merasa lega. Kemudian beliau bersabda, "Apakah belum waktunya untuk berangkat ?". Aku menjawab, "Sudah". Lalu kami berangkat setelah matahari condong (ke barat). Kemudian Suraqah bin Malik membuntuti kami, maka aku berkata, "Kita dibuntuti, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita". Lalu Nabi SAW berdo’a terhadap Suraqah, lalu kuda Suraqah menancap (dua kaki depan) sampai perutnya. Aku mengira, ke dalam tanah cadas (Zuhair ragu). Kemudian Suraqah berkata, "Sungguh aku menyangka kamu berdua telah berdo’a terhadapku, maka do’akanlah untukku, niscaya Allah menolong kamu berdua, aku akan mengembalikan orang-orang yang mencari kamu". Kemudian Nabi SAW mendo’akan Suraqah, maka dia selamat. Lalu tidaklah Suraqah bertemu dengan seseorang (yang mencari beliau) kecuali dia berkata, "Aku cukupkan kamu (percayalah kepadaku), dia tidak ada di sini". Maka Suraqah tidak bertemu seseorang kecuali dia mengembalikannya. Abu Bakar berkata, "Dan Suraqah memenuhi (janjinya) kepada kami".
[HR.Bukhari juz 4, hal. 180]
Abu Bakar juga berkata : "Aku berkata kepada Nabi SAW saat berada di dalam gua; "Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah dua telapak kakinya, pasti dia melihat kita". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Hai Abu Bakar, apakah kau kira kita hanya berdua, sesungguhnya Allah yang ketiganya".
[HR. Bukhari juz 4, hal. 190]

Pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA


Pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA

Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Dari ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW bahwasanya Rasulullah SAW telah wafat, sedangkan Abu Bakar berada di Sunhi. Isma’il (perawi) berkata, “Yaitu suatu tempat di perbukitan”. Kemudian ‘Umar berdiri dan berkata, “Demi Allah, Rasulullah SAW tidak mati”. ‘Aisyah mengatakan : Dan ‘Umar berkata, “Demi Allah, tidak ada yang terlintas di hatiku kecuali itu. Dan Allah pasti akan menghidupkan beliau kembali, lalu pasti akan memotong tangan dan kaki orang-orang (yang mengatakan Nabi SAW telah mati)”. Kemudian Abu Bakar RA datang, lalu membuka (wajah) Rasulullah SAW dan menciumnya sambil berkata, “Aku tebusi engkau dengan ayah dan ibuku, engkau adalah orang yang baik, hidup ataupun mati. Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, Allah tidak akan mencicipkan kepadamu dua kematian selamanya”. Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata (kepada ‘Umar), “Wahai orang yang bersumpah, jangan tergesa-gesa !”. Setelah Abu Bakar berbicara, maka ‘Umar duduk. Abu Bakar lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berkata, “Ketahuilah, barangsiapa menyembah Muhammad SAW, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha hidup, tidak akan mati, dan Dia berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [QS. Az-Zumar : 30]. Dan Allah berfirman (yang artinya), “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlal sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia meninggal atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad) ? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madlarat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. [QS. Ali ‘Imran : 144]. Perawi berkata, “Lalu orang-orang menangis tersedu-sedu”.
[HR. Bukhari juz 4, hal.193]

Perawi berkata, “Shahabat-shahabat Anshar berkumpul kepada Sa’ad bin ‘Ubadah di Saqifah (bangsal) Bani Sa’idah, lalu mereka berkata, “Dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin”. Kemudian berangkatlah Abu Bakar Ash-Shiddiiq, ‘Umar bin Khaththab dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah kepada mereka, lalu ‘Umar berbicara, kemudian ia disuruh diam oleh Abu Bakar, ‘Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak menghendaki hal itu, tetapi saya telah mempersiapkan suatu pembicaraan yang mena’jubkan diriku, yang aku khawatirkan tidak disampaikan oleh Abu Bakar”. Kemudian Abu Bakar berbicara dengan pembicaraan yang sangat tegas. Perkataan yang beliau katakan, “Kami adalah pemimpin pemerintahan, sedangkan kalian adalah pembantu (menteri-menteri)”. Lalu Hubab bin Mundzir berkata, “Tidak, demi Allah, kami tidak mau yang demikian, tetapi dari kami ada seorang pemimpin dan dari  kalian ada seorang pemimpin pula”. Abu Bakar berkata, “Tidak, tetapi kamilah pemimpin pemerintahan, sedangkan kalian sebagai pembantu (menterimenteri). Mereka (suku Quraisy) adalah bangsa ‘Arab yang paling tengah tempat tinggalnya dan yang paling murni keturunan ‘Arabnya. Maka berbai’atlah kalian kepada ‘Umar bin Khaththab atau Abu ‘Ubaidah”. ‘Umar berkata, “Bahkan kami berbai’at kepadamu (wahai Abu Bakar). Engkau adalah pemimpin kami, orang yang terbaik diantar  kami dan paling dicintai oleh Rasulullah SAW diantara kami”. Lalu ‘Umar menjabat tangannya dan berbai’at kepadanya, lalu orang-orang pun berbai’at kepadanya. Ada seseorang berkata, “Kalian membinasakan Sa’ad bin ‘Ubadah”. Maka ‘Umar berkata, “Semoga Allah yang membinasakannya”.
[HR. Bukhari juz 4, hal.194]
Dalam riwayat lain disebutkan sebagai berikut : tidak terdapat di dalam kitab Allah, dan bukan pula janji yang dijanjikan kepadaku oleh Rasulullah SAW, akan tetapi sungguh aku melihat bahwasanya Rasulullah akan menjaga urusan kita sampai akhir., sungguh Allah telah menetapkan pada kalian kitab-Nya yang dengan kitab itu Allah menunjuki Rasul-Nya SAW, maka jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya Allah menunjuki kalian kepada jalan yang Allah telah menunjukkan kepada Rasul-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah mengumpulkan urusan kalian pada orang yang terbaik diantara kalian dari shahabat Rasulullah SAW, salah seorang diantara dua orang yang pernah berada di dalam gua. Maka berdirilah kalian dan bai’atlah dia”. Maka orang-orang lalu berdiri dan membai’at Abu Bakar secara umum setelah bai’at di Saqifah.
[Ibnu Hisyam juz 6, hal. 82]

Abu Bakar RA Mengimami Sholat


Abu Bakar RA  Mengimami Sholat

Abu Bakar juga dipilih oleh Nabi SAW untuk mengimami shalat ketika beliau sakit, sebagaimana riwayat berikut : Dari Aisyah, ia berkata : Pada waktu Rasulullah SAW sakit, beliau menyuruh Abu Bakar agar shalat bersama orang banyak, maka ia (Abu Bakar) shalat mengimami mereka. Urwah berkata : Kemudian Rasulullah SAW merasa agak enak badannya, maka beliau keluar (ke masjid), dan ternyata Abu Bakar sedang mengimami mereka. Ketika Abu Bakar mengetahui kedatangan beliau, ia mundur, maka Rasulullah SAW memberi isyarat kepadanya yaitu, Tetaplah kamu seperti semula. Kemudian Rasulullah SAW duduk sejajar dengan Abu Bakar, yaitu di sampingnya. Maka Abu Bakar shalat mengikuti shalatnya Rasulullah SAW, sedangkan orang banyak shalat bermamum kepada Abu Bakar.
[HR. Muslim juz 1, hal. 314]
Dari Aisyah, ia berkata : Ketika Rasulullah SAW sakit keras, Bilal datang memberitahu beliau bahwa waktu shalat sudah tiba. Beliau bersabda, Suruhlah Abu Bakar untuk shalat bersama orang banyak. Aku berkata Wahai Rasulullah, Abu Bakar itu orang yang mudah menangis, dan apabila ia menempati tempat engkau (sebagai imam), maka ia tidak bisa memperdengarkan suaranya kepada orang banyak. Sebaiknya engkau perintahkan kepada Umar saja. Beliau bersabda, Suruhlah Abu Bakar untuk shalat bersama orang banyak. (Aisyah) berkata : Lalu aku berkata kepada Hafshah, Katakanlah kepada beliau, sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang mudah menangis, dan apabila ia menempati tempat engkau (sebagai imam), ia tidak dapat memperdengarkan suaranya kepada orang banyak. Sebaiknya engkau perintahkan kepada Umar saja. Lalu Hafshah menyampaikannya kepada beliau, maka beliau bersabda, Sesungguhnya kalian benar-benar (seperti) perempuan-perempuan Yusuf, Suruhlah Abu Bakar supaya shalat mengimami orang banyak. Akhirnya mereka menyuruh Abu Bakar untuk shalat mengimami orang banyak. Aisyah berkata : Diwaktu Abu Bakar shalat, Rasulullah SAW merasakan dirinya agak enak, lalu beliau berdiri dengan dipapah dua orang berjalan di atas tanah. Aisyah berkata : Ketika beliau masuk masjid, Abu Bakar mendengar suara beliau, lalu ia mundur. Maka Rasulullah SAW memberi isyarat kepadanya, Tetaplah berdiri di tempatmu. Kemudian Rasulullah SAW datang, lalu duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Aisyah berkata : Beliau shalat bersama orang banyak dengan duduk, sedang Abu Bakar tetap berdiri. Abu Bakar mengikuti kepada shalatnya Nabi SAW, dan orang banyak mengikuti shalatnya Abu Bakar.
 [HR. Muslim juz 1, hal. 313]

Keislaman Abu Bakar RA


Keislaman Abu Bakar RA

Abu Bakar adalah orang laki-laki yang pertama kali masuk Islam setelah mendapatkan da’wah Nabi SAW. Adapun Khadijah istri Nabi SAW adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan wanita. ‘Ali bin Abu Thalib adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anakanak. Dan Zaid bin Haritsah adalah orang yang pertamakali masuk Islam dari golongan budak.
Keislaman Abu Bakar banyak membawa berkah bagi kaum muslimin. Dengan da’wah beliau maka masuk Islam pula ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, ‘Utsman bin ‘Affan, Zubair bin ‘Awwam dan Thalhah bin ‘Ubaidillah RA. Di awal keislamannya dia menginfaqkan hartanya di jalan Allah sebanyak 4.000 dirham, dia banyak memerdekakan budak yang disiksa tuannya karena keislamannya. Diantaranya adalah Bilal bin Rabah RA. Dia selalu mengikuti Rasulullah SAW selama di Makkah, dan dialah yang mengiringi Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah dan dia yang menemani Rasulullah SAW ketika bersembunyi dalam gua Tsur dalam perjalanan hijrah, hingga sampai di kota Madinah. Dan dia selalu mengikuti perang bersama Rasulullah SAW, pada perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq, ketika penaklukan kota Makkah, perang Hunain dan perang Tabuk.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam kitab Thabaqaatnya :
Dahulu Abu Bakar seorang pedagang yang terkenal, kemudian ketika Nabi SAW diutus (diangkat menjadi Nabi), Abu Bakar ketika itu mempunyai uang 4.000 dirham, lalu dengan uang itu dia memerdekakan budak dan untuk menguatkan kaum muslimin. Dan ketika tiba di Madinah, dia mempunyai uang 5.000 dirham, kemudian dengan uang itu ia perbuat sebagaimana ketika di Makkah.
 [Thabaqaat Ibnu Sa’ad juz 3, hal. 172]

Abu Bakar RA Paling Mudah Menerima Islam


Abu Bakar RA Paling Mudah Menerima Islam

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Nabi SAW bersabda : Tidak ada seorangpun yang aku ajak bicara tentang Islam (untuk masuk Islam) melainkan ia enggan dan membantah, kecuali Ibnu Abi Quhaafah (Abu Bakar), karena tidaklah aku mengatakannya sesuatu kepadanya melainkan ia pasti menerimanya dan betul-betul melaksanakannya.
[Ahsanul Qashash juz 3, hal. 11]
Di dalam riwayat lain disebutkan :
Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kalian akan meninggalkan shahabatku ? Sesungguhnya aku pernah menyeru, “Hai para manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua. Lalu kalian mengatakan, “Kamu bohong”. Sedang Abu Bakar berkata, “Engkau benar”. [AhsanulQashash juz 3, hal. 11]
Ibnu Hisyam menyebutkan di dalam Tarikhnya, sebagai berikut :
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah aku mengajak masuk Islam kepada seseorang pun, melainkan ia pasti tidak segera menerimanya, masih pikirpikir dan ragu-ragu, melainkan Abu Bakar bin Abu Quhaafah, dia tidak perlu pikir-pikir dulu ketika aku mengajaknya masuk Islam, dan dia tanpa raguragu.
[Ibnu Hisyam juz 2, hal. 91]

Abu Bakar RA Setia Membela Nabi


Abu Bakar RA Setia Membela Nabi

Dan Abu Bakar selalu membela Nabi SAW sejak di Makkah. Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Dari 'Urwah bin Zubair, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada 'Abdullah bin 'Amr tentang perbuatan yang paling keras yang dilakukan kaum musyrikin kepada Rasulullah SAW. Maka dia menjawab; "Aku pernah melihat 'Uqbah bin Abu Mu'aith mendatangi Nabi SAW saat beliau sedang shalat, lalu dia meletakkan selendangnya pada leher beliau lalu dia mencekiknya dengan sekuat-kuatnya. Kemudian Abu Bakar datang lalu melepaskan Nabi SAW seraya berkata, "Apakah kalian akan membunuh seseorang karena dia mengatakan “Tuhan ku adalah Allah?”. Sungguh dia telah datang dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas dari Tuhan kalian"
[HR. Bukhari juz 4, hal. 197]
Dan Rasulullah SAW juga bersabda : Sesungguhnya orang yang paling setia kepadaku dalam hal harta maupun berkawan adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih, niscaya aku memilih Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam.”
. [HR. Muslim juz 4, hal. 1854]

Abu Bakar RA Rajin Ibadah dan Sedekah


Abu Bakar RA Rajin Ibadah dan Sedekah

Abu Bakar adalah shahabat Nabi SAW yang rajin beribadah dan sangat dermawan. Diriwayatkan dalam sebuah hadits sebagai berikut : Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah bertanya (kepada para shahabat), “Siapakah diantara kalian pada hari ini yang sejak pagi berpuasa ?” Abu Bakar menjawab, “Saya”. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Siapakah diantara kalian pada hari ini yang sudah memberi makan orang miskin ?”, Abu Bakar menjawab, “Saya”. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Siapakah diantara kalian yang hari ini sudah mengantarkan jenazah ?”. Abu Bakar menjawab, “Saya”. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Siapakah diantara kalian pada hari ini yang sudah menjenguk orang sakit ?”. Abu Bakar menjawab, “Saya”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah perbuatan-perbuatan ini terkumpul pada seseorang melainkan dia akan masuk surga”.
[HR. Ibnu Khuzaimah di dalam shahihnya, juz 3, hal. 304]

Nasab Abu Bakar RA


Nasab Abu Bakar RA

Ibnu Sa’ad menyebutkan dalam kitab Thabaqaat-nya, bahwa nasab Abu
Bakar Ash-Shiddiiq adalah sebagai berikut :
Abu Bakar Ash-Shiddiq namanya adalah ‘Abdullah bin Abu Quhaafah, (Abu Quhaafah)
Nama aslinya adalah ‘Utsman bin ‘Aamir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah. Ibunya Abu Bakar adalah Ummul Khair, nama aslinya adalah Salma binti Shakhr bin ‘Aamir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah.
(Thabaqaat Ibnu Sa’ad juz 3, hal. 169)

Abu Bakar RA Muntahkan Makanan Haram


Abu Bakar RA Muntahkan Makanan Haram

Abu Bakar RA merupakan sahabat Rasulullah yang masuk dalam golongan Assabbikhunal Awwalun (pertama masuk Islam). Beliau mendapat gelar As Siddiq karena meyakini kenabian Muhammad petama kali sebelum orang lain.  Abu Bakar juga merupakan sosok yang sangat berhati-hati dalam menjalankan segala aktivitas. Bahkan, untuk makan pun, beliau sangat menjaga agar makanan yang dimakan tidak tergolong haram.
Pernah suatu kali, Abu Bakar disodorkan makanan oleh pembantunya. Abu Bakar kemudian memakan makanan itu satu suap. Sang pembantu merasa heran dengan perilaku Abu Bakar. Sebab, biasanya Abu Bakar selalu bertanya dari mana asal makanan yang disuguhkan padanya kepada sang pembantunya.
Pembantu itu lantas bertanya: "Kenapa kau tidak bertanya kepadaku dari mana asal makanan itu, seperti biasanya?"
Abu Bakar teringat kebiasaannya, kemudian bertanya kepada sang pembantu. "Dari mana asal makanan yang kau suguhkan padaku ini?"
"Makanan ini berasal dari seseorang yang pada masa jahiliah memintaku membuat jampi-jampi sihir untuknya. Makanan ini adalah upahku darinya," jawab pembantu itu. Mendengar jawaban itu, Abu Bakar terkaget dan segera memasukkan jarinya ke dalam kerongkongan. Beliau berusaha memuntahkan makanan yang telah
dimakannya agar tidak memenuhi perutnya.
Setelah itu, Abu Bakar berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Setiap anggota tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang tidak halal, tentunya api neraka itu lebih berhak baginya'.