Jumat, 29 April 2016

Pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA


Pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiiq RA

Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Dari ‘Aisyah RA, istri Nabi SAW bahwasanya Rasulullah SAW telah wafat, sedangkan Abu Bakar berada di Sunhi. Isma’il (perawi) berkata, “Yaitu suatu tempat di perbukitan”. Kemudian ‘Umar berdiri dan berkata, “Demi Allah, Rasulullah SAW tidak mati”. ‘Aisyah mengatakan : Dan ‘Umar berkata, “Demi Allah, tidak ada yang terlintas di hatiku kecuali itu. Dan Allah pasti akan menghidupkan beliau kembali, lalu pasti akan memotong tangan dan kaki orang-orang (yang mengatakan Nabi SAW telah mati)”. Kemudian Abu Bakar RA datang, lalu membuka (wajah) Rasulullah SAW dan menciumnya sambil berkata, “Aku tebusi engkau dengan ayah dan ibuku, engkau adalah orang yang baik, hidup ataupun mati. Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, Allah tidak akan mencicipkan kepadamu dua kematian selamanya”. Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata (kepada ‘Umar), “Wahai orang yang bersumpah, jangan tergesa-gesa !”. Setelah Abu Bakar berbicara, maka ‘Umar duduk. Abu Bakar lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berkata, “Ketahuilah, barangsiapa menyembah Muhammad SAW, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha hidup, tidak akan mati, dan Dia berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [QS. Az-Zumar : 30]. Dan Allah berfirman (yang artinya), “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlal sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia meninggal atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad) ? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madlarat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. [QS. Ali ‘Imran : 144]. Perawi berkata, “Lalu orang-orang menangis tersedu-sedu”.
[HR. Bukhari juz 4, hal.193]

Perawi berkata, “Shahabat-shahabat Anshar berkumpul kepada Sa’ad bin ‘Ubadah di Saqifah (bangsal) Bani Sa’idah, lalu mereka berkata, “Dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin”. Kemudian berangkatlah Abu Bakar Ash-Shiddiiq, ‘Umar bin Khaththab dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah kepada mereka, lalu ‘Umar berbicara, kemudian ia disuruh diam oleh Abu Bakar, ‘Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak menghendaki hal itu, tetapi saya telah mempersiapkan suatu pembicaraan yang mena’jubkan diriku, yang aku khawatirkan tidak disampaikan oleh Abu Bakar”. Kemudian Abu Bakar berbicara dengan pembicaraan yang sangat tegas. Perkataan yang beliau katakan, “Kami adalah pemimpin pemerintahan, sedangkan kalian adalah pembantu (menteri-menteri)”. Lalu Hubab bin Mundzir berkata, “Tidak, demi Allah, kami tidak mau yang demikian, tetapi dari kami ada seorang pemimpin dan dari  kalian ada seorang pemimpin pula”. Abu Bakar berkata, “Tidak, tetapi kamilah pemimpin pemerintahan, sedangkan kalian sebagai pembantu (menterimenteri). Mereka (suku Quraisy) adalah bangsa ‘Arab yang paling tengah tempat tinggalnya dan yang paling murni keturunan ‘Arabnya. Maka berbai’atlah kalian kepada ‘Umar bin Khaththab atau Abu ‘Ubaidah”. ‘Umar berkata, “Bahkan kami berbai’at kepadamu (wahai Abu Bakar). Engkau adalah pemimpin kami, orang yang terbaik diantar  kami dan paling dicintai oleh Rasulullah SAW diantara kami”. Lalu ‘Umar menjabat tangannya dan berbai’at kepadanya, lalu orang-orang pun berbai’at kepadanya. Ada seseorang berkata, “Kalian membinasakan Sa’ad bin ‘Ubadah”. Maka ‘Umar berkata, “Semoga Allah yang membinasakannya”.
[HR. Bukhari juz 4, hal.194]
Dalam riwayat lain disebutkan sebagai berikut : tidak terdapat di dalam kitab Allah, dan bukan pula janji yang dijanjikan kepadaku oleh Rasulullah SAW, akan tetapi sungguh aku melihat bahwasanya Rasulullah akan menjaga urusan kita sampai akhir., sungguh Allah telah menetapkan pada kalian kitab-Nya yang dengan kitab itu Allah menunjuki Rasul-Nya SAW, maka jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya Allah menunjuki kalian kepada jalan yang Allah telah menunjukkan kepada Rasul-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah mengumpulkan urusan kalian pada orang yang terbaik diantara kalian dari shahabat Rasulullah SAW, salah seorang diantara dua orang yang pernah berada di dalam gua. Maka berdirilah kalian dan bai’atlah dia”. Maka orang-orang lalu berdiri dan membai’at Abu Bakar secara umum setelah bai’at di Saqifah.
[Ibnu Hisyam juz 6, hal. 82]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar